Kunjungan Wisata managed by Mustafa Noer.

Wednesday, December 26, 2018

DENDENG BATOKOK SAMBAL CABE IJO VAN WEST SUMATRA

Ini lauk khas Sumatra Barat yang terkenal lezat dan bisa ngabisin nasi hangat. Iya, dendeng batokok memang. Setelah daging sapi direbus dengan bumbu lalu di tokok tokok atau dipukul dengan gilingan cabe dan dibakar dengan arang batok kelapa. Kalau mau dihidangkan digoreng sebentar di atas hotplate. Meski digoreng selayang namun aroma asap masih terasa dan merangsang selera makan. Apalagi dimakan pakai sambal cabe ijo, oseng oseng kacang panjang dan sayur sawi plus nasi hangat plus makannya di udara pegunungan yang dingin ... Waooooowwww ...

Mustafa Noer
Share:

Saturday, December 22, 2018

TALANG BABUNGO - WEST SUMATRA

Satu lagi destinasi wisata di Sumatera Barat yang perlu diperkenalkan. Tepatnya berada di Jorong Tabek, Nagari Talang Babungo, Kecamatan Hiliran Gumanti Kabupaten Solok. Jaraknya cukup dekat dari Padang sekitar 2 jam perjalanan. Dari Alahan Panjang hanya sekitar 30 menit. Perjalan ke lokasi kita akan disuguhi view yang luar biasa indahnya. Gunung berapi Talang yang mengepulkan asap, Danau Diatas yang jernih membiru, kebun teh, perkebunan sayur mayur dan buah buahan, ngarai, sawah yang sangat menyejukkan mata. Udara pegunungan yang sangat sejuk sangat menenangkan fikiran.

Tujuan utama kita di desa atau jorong Tabek yang mana di desa ini sudah terbagi menjadi 12 zona wisata. Setiap masuk zona kita akan disambut dengan gapura selamat datang yang sangat unik berasitektur khas minang. Dipinggir jalan desa yang sangat bersih ini tumbuh tanaman bunga dan tanaman hias serta perkebunan tebu rakyat. Disetiap zona, jalan jalan di masing masing zona disediakan shelter untuk beristirahat dan duduk duduk sambil menikmati view yang sangat indah. Penduduk di desa ini sangat welcome kepada tamu tamu yang berkunjung ke desa ini sehingga kita akan merasa sangat nyaman. Disini sudah ada 20 rumah yang siap menerima tamu yang akan bermalam dengan fasilitas sederhana namun bersih.

Spot wisata ini sangat cocok untuk agro-wisata dengan didukung oleh view yang sangat indah memanjakan mata. Bagi yang hoby traking kita bisa traking ke Pancuran Puteri yang sangat indah. Di desa ini juga merupakan sentra gula merah yang dibuat dari tebu baik gula merah batangan maupun bentuk granul yang kita kenal dengan gula semut. Memeras tebu disini sangat unik karena menggunakan tenaga kuda ... unik banget yha.....

Ayo guys sempatin mampir ke desa ini banyak banget spot foto disana dengan background pegunungan, ngarai, perkebunan sayur, sawah yang semuanya sangat instagramable ....
Share:

Friday, November 23, 2018

DADIAH : THE TRADITIONAL YOGHURT FROM WEST SUMATRA

       Kalau membahas kuliner Minangkabau rasa rasanya tak akan ada habis habisnya yha. Kali ini kita perkenalkan dadiah yang merupakan produk olahan susu fermentasi yang khas dari Sumatera Barat. Rasa, texture, warna dan aromanya mirip banget dengan yoghurt yang biasa kita makan tuh. Tapiiii ... tentu saja ada perbedaannya lah.

       Kalau yoghurt merupakan produk olahan susu yang tetbuat dari susu sapi tetapi kalau dadiah terbuat dari SUSU KERBAU ... naaaahhhh unik khan. Selain itu pada pembuatan dadiah tidak diperlukan starter mikroorganisma tetapi fermentasi yang terjadi secara alamiah. Biasanya pada pengolahan yoghurt khan ditambah starter bakteri lactobaccillus yha untuk proses fermentasinya. Kalau pada dadiah murni fermentasi secara natural. Membuatnyapun cukup mudah, susu kerbau setelah diperah kita saring dan dimasukkan ke dalam bubuh bambu. Kemudian kita tutup dengan daun waru dan daun pisang. Tunggu dua hari jadilah dadiah yang siap untuk kita santap. Gampang yha guys. Dadiah ini sangat menyehatkan karena bisa menjaga keseimbangan bakteri yang ada di pencernakan kita atau flora normal usus. 

       Untuk menyantapnya, bisa langsung kita makan atau bisa juga supaya lebih lezat dimakan bersama emping ketan, parutan kelapa muda dan gula merah cair ... waooooowww yumyyyy! Kadang malah  dimakan bersama nasi setelah dicampur dengan bawang merah, cabe dan garam. Emping
 ketan sebelum dihidangkan disiram dulu pakai air panas atau bisa juga direndam pakai air dingin supaya lunak. Dadiah banyak dibuat masyarakat minang di dataran tinggi seperti Bukittinggi' Agam, Batusangkar, Solok dan Payakumbuh yang kita kenal dengan daerah Luhak Nan Tigo. Kuliner ini sangat lezat dan bergizi dan patut kita lestarikan bersama ... mariiiiiiii.....
Share:

Saturday, November 17, 2018

VAN DER CAPELLEN TRADITIONAL MARKET, BATUSANGKAR, WEST SUMATRA

       Years have passed since the Dutch colonialsm in Indonesia ended. But still, you can find many Dutch historical site around you,  which has become a travel destination in saveral places. One of them is Fort Van der Capellen that located in Batusangkar, West Sumatra.

       Standing majestically in Baringin, Limo Kaum, Tanah Datar Regency West Sumatra, Fort van Der Capellen has become a silent witness to the history of Paderi War from 1803 until 1838. The name it self was taken from Godert Alexander Gerald Philip Baron Van der Capellen who used to be Governor-General of the Dutch East Indies. Having said that, the level of public awareness of this place still low, unlike his "brother" Fort de Kock which is always crowded. But the presence of Van der Capellen Traditional Market is stealing the spotlight and has succeeeded in creating hype not only by local people but also social media, which invites wider people to come.

       One of the uniqueness of Van der Capellen Traditional Market is that each guest has the oportunity to take a pictures in ancient shades, using the traditional Minangkabau costumes, remembering you to the moment of old tradition in West Sumatra.  There are also traditional music behind which add to the "Minang" vibes here and will certainly make you dive into the authentically of "Minang".

     The presence of various Tanah Datar cuisine has made this place even better. With option like Lamang Tapai, Nasi Padeh Simabua, Bika, Kue Talam, Katupek Pitalah, Nira Talua, Karupuak Pitalah etc there's something for everyone. Every serving is full of flavour and perfect all for kinds of hanger pangs.

       Since the first day it opened, Van der Capellen Traditional market has always been filled with the guest. Especially for those who seek for an instagramable moment, this place will surely dazzle your social media. This Traditional Market is only held every Sunday from 7am until 12pm. With all the coollness and uniqueness of this place, Van der Capellen Traditional Market definitly deserves a chance to be visited whenever you come to West Sumatra ......
Share:

Friday, November 16, 2018

CHILI FIELDS, ALAHAN PANJANG, WEST SUMATRA

Share:

Tuesday, November 13, 2018

FORT VAN DER CAPELLEN, BATUSANGKAR WEST SUMATRA

       Benteng pertahanan yang ada di Batusangkar ini dibangun oleh Belanda pada abad XVIII atau sekitar tahun 1821. Dibangunnya benteng ini sebagai pertahanan untuk melawan pasukan Tuanku Imam Bonjol pada Perang Paderi yang lalu. Tempatnya yang strategis dengan pemandangan yang sangat indah namun popularitasnya kalah jauh dibandingkan dengan Istana Pagaruyung meski kedua tempat ini berjarak cukup dekat.

       Berawal dari kepulangan tiga ulama Minangkabau dari ibadah haji ke Mekah, mereka resah melihat dengan mata kepala dan mata hati kebiasaan masyarakat Minangkabau pada saat itu yang tidak sesuai dengan syariat islam seperti berjudi, minum minuman keras, menyabung ayam dll. Hal hal yang menyimpang itu ingin beliau beliau luruskan. Tentunya awalnya dengan cara persuatif tidak langsung berperang. Namun .... Kaum adat menolak dan masih ingin mempertahankan adat istiadat mereka. Akhirnya terjadilah perang terbuka antara Kaum Adat dan Kaum Paderi. Alhamdulillah peperangan dimenangkan oleh Kaum Paderi. Namun ... Kaum Adat tidak mau menyerah begitu saja tetapi malah minta bantuan Penjajah Belanda untuk menghadapi Kaum Paderi. Tentunya dengan senang hati Belanda menyanggupi, khan sekalian untuk menjalankan politik devide et impera... mengadu domba dan memecah belah masyarakat Minangkabau pada saat itu. Untuk itu dibangunlah benteng pertahanan di Batusangkar yang saat itu bernama Van der Capellen.  Kaum Paderi kewalahan menghadapi pasukan Kaum Adat yang dibantu oleh Belanda dengan peralatan tempur yang cukup lengkap dan akhirnya kalah. Pimpinan pasukan Paderi Tuanku Imam Bonjol tertangkap dan diasingkan di Minahasa sampai meninggal disana.

       Perang Paderi pada abad XVIII di Minangkabau bisa loh dipakai sebagai bahan pembelajaran bagi kita. Sering kita tidak menyadari kalau sdang diadu domba dan dipecah belah oleh kekuatan tersembunyi. Diprovokasi, dipanasi, difitnah terus langsung pada semangat 45 mau berperang ke medan laga padahal nggak sadar kalau lagi diadu domba. Lha provokatornya yang dibelakang layar khan pada tepuk tangan kegirangan lah. ... Naaaahhhh sejarah selain kita mengingat kejadian kejadian masa lampau tetapi yang lebih penting bisa mengambil hikmah pembelajaran yang ada di dalamnya. Salah satu sumber pembelajaran yha  Perang Paderi antara Kaum Ulama dan Kaum  Adat di Minangkabau ini ..... Mareeeeee
Share:

Monday, November 12, 2018

RENDANG BELUT : THE SIGNATURE DISH FROM BATUSANGKAR WEST SUMATRA

       Belut dimasak rendang? Emangnya bisa? Apa nggak hancur lebur dimasak berjam-jam diatas tungku? Yheeeee belum pada tahu yha kalau rendang belut tuh masakan khas Batusangkar yang terkenal sangat lezat. Rasanya juga sangat unik... Asam, pedas, gurih, kaya rasa yang sangat memanjakan lidah siapapun yang memakannya... Eksotik banget lah. Pertama kali merasakan rendang belut ini emang emang rada rada aneh dan agak terkejut karena emang rasanya berbeda dengan rasa rendang yang ada di memori kepala kita. Yhaaahhh... Memang bumbu bumbu rendang belut berbeda dengan rendang daging. Selain bumbu bumbu standart untuk memasak rendang ini ada penambahan daun daun yang membuat rasa rendang ini jadi berbeza seperti daun kedondong, daun belimbing, daun kusambi, daun ayang ayang, daun surian, daun palem palem dll yang memberi rasa khas pada rendang jenis ini. Apalagi ditambah dengan ketumbar muda yang masih hijau yang menambah rasa eksotik rendang belut. Ada nuansa rasa masakan Thailand sepertinya lah.

       Rendang belut ini dihidangkan pada hari hari istimewa saja misalnya pas pesta pernikahan, hari raya, tukar tando atau tukar cincin, batagak penghulu atau upacara pengangkatan datuk dll.  Cara memasaknya, belut yang sebesar telunjuk setelah isi perutnya dibersihkan dipotong potong dan dibakar diatas arang batok kelapa untu menghilangkan lendirnya. Setelah  itu dicampur dengan jeruk nipis, bawang putih dan garam kemudian digoreng selayang nggak sampai kering. Supaya lezat menggorengnya pakai minyak samba  yang merupakan minyak hasil memasak rendang. Khan kalau masak rendang, setelah kering rendang kita tiriskan dan minyaknya
menetes ke bawah... Naaaahhh itulah minyak samba yang aromanya lezat menggoda.

       Seperti halnya masak rendang yang lain, rendang belut juga pakai santan kelapa. Untuk sekilo belut perlu 4 butir kelapa dibuat santan kental. Santan dipanaskan diatas api dan bumbu rendang yang standart dimasukkan kedalamnya sambil diaduk aduk pelan supaya santannya tidak pecah. Kemuadian daun daun untuk rendang yang sudah dipotong potong dimasukkan secara bertahap. Masukkan juga ketumbar muda yang sudah ditumbuk halus. Kalau santannya udah agak mengental baru dimasukkan belutnya sambil tus diaduk asuk pelan dan apinya dikecilkan. Untuk masak rendang belut ini akan lebih lezat jika menggunakan kayu bakar karena asap,yang dihasilkan akan memberikan aroma  dan rasa yang lebih eksotik. Untuk memasak rendang ini sebaiknya apinya kecil saja supaya bumbunya bisa lebih meresap ke dalam daging dan mencegah oksidasi minyak yang ada. Kalau rendang udah kering, siap dihidangkan dengan nasi hangat hangat yang akan menghabiskan nasi sebakul saking lezatnya .....
Share:

Alih Bahasa

Laporan Wisata

DENDENG BATOKOK SAMBAL CABE IJO VAN WEST SUMATRA

Ini lauk khas Sumatra Barat yang terkenal lezat dan bisa ngabisin nasi hangat. Iya, dendeng batokok memang. Setelah daging sapi direbus den...

Label